Friday, 3 November 2017

Man Salaka Thariqan..

Aku lagi takjub betul sama kondisi sekarang, aku kini lihat para pemuda ramai betul ikut kajian, berduyun-duyun datang ke masjid-masjid, dari yang masih usia sekolah, kuliah, atau sudah kerja. Kata "hijrah" menjadi begitu populer beberapa tahun ke belakang, komunitas-komunitas pun juga hadir sebagai pengikat dalam kebaikan mereka lepas kajian yang diikuti. Tren yang menarik.

Aku takjub betul lihat di Bandung, kota asalku itu, mungkin jadi salah satu pelopor semaraknya para pemuda ikut kajian, kepengin "hijrah", maka di Bandung ada yang namanya Pemuda Hijrah yang kalau menurutku menjadi salah satu pelopor. Aku juga takjub lagi sama masjid-masjid yang kini semakin ramai, aku sebut misalnya Masjid Agung Trans Studio Bandung, masjid yang ada di kompleks Trans Studio Bandung ini menjadi salah satu pusat kajian di kota ini, setiap hari dari mulai pagi hingga malam selalu ada kajian, tentunya dengan berbagai tema, komunitas atau institusi yang menyelenggarakannya serta tentu saja para Ustadz atau Kiai yang mengisi kajiannya. 

Kejadian ini memang menarik, bagaimana misalnya hafal surat "Ar-Rahmaan" menjadi keinginan, kepengin punya suara yang bagus ditambah hafalan yang mumpuni kayak Muzzammil Hasballah atau Fatih Seferagic menjadi dambaan. Jadi sekarang ternyata ganteng saja tidak cukup, tapi kalo ganteng terus suaranya bagus kalau lagi baca Al-Quran apalagi kalau punya hafalan Al-Quran, wuih langsung jadi keren. Terkesan timbul kesadaran semacam, "buat apa ganteng kalo di akhirat ga nyampe Surga," atau sejenisnya lah yang intinya kesadaran akan hal-hal akhirat ini menjadi tumbuh dan penting. Menarik sekali.

Aku ingat betul betapa malunya saat dulu sedang asik scroll atas-bawah di Instagram terus lihat post temanku yang beres ikut kajian, malam-malam pula, deg rasanya, "Masya Allah, Alhamdulillah." Malu betul aku, di saat aku sedang santai-santai, lha temen-temenku ini baru beres ikut kajian, kepengin hijrah katanya.

Para "hijrah-wan" (oke ini istilahku sendiri, agak ngaco memang) ini yang menarik, dakwah itu, mengajak kepada kebaikan itu, di zaman sekarang ini perlu kreativitas tinggi. Semisal ada semacam level orang ikut kajian atau tertarik untuk kembali menerapkan nilai-nilai Islam, maka pada tingkat yang atas ada orang-orang yang sudah terbiasa ikut kajian, dengan bahasan yang kadang agak berat, tapi intinya sudah rutin menghadiri majelis-majelis ilmu tanpa terlalu melihat siapa yang mengisi (ya tapi tentunya yang mengisinya juga yang betul-betul kompeten), di tingkat lebih bawahnya ada mereka yang senang ikut kajian tapi masih lihat-lihat siapa Ustadz / Ustadzah nya, apa temanya dan lain-lain, ini tipe-tipe kondisional. Di bawahnya lagi ada yang kurang tertarik ikut yang begitu, kalau datang juga sesekali, itu pun karena diajak temen, kalau nggak diajak ya nggak tertarik, nah yang begini ini yang punya potensi tapi perlu diajak. Di bawahnya lagi ada yang boro-boro ikut, shalat fardhunya tepat waktu atau nggak bolong-bolong pun sudah syukur. Nah di yang dua terakhir ini yang belum banyak Ustadz yang masuk ke sana, tapi ya itu dulu sih, sekitar dua tahun ke belakang, kita bisa temukan juga Ustadz yang ikut turun untuk masuk ke sana.

Nah dakwah itu perlu kreativitas, aku sering lihat para "hijrah-wan" ini kemampuan dan kreativitasnya ciamik sekali, jago fotografi, jago desain, jago ambil video, editting, bikin konten menarik dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan yang mereka miliki sebelum "berhijrah" ini menjadi modal yang baik untuk dakwah, untuk mengemas dakwah dengan lebih menarik dan kreatif. Misalnya ya lewat video kah, poster, kaos dan sebagainya, kreatif sekali. Inilah yang dibutuhkan, selain tentunya ilmu yang mencukupi. Dulu itu menurutku kajian-kajian itu ya isinya tentu berbobot, menarik, namun pengemasannya kurang menarik, nah sekarang jauh lebih menarik.

Aku takjub (lagi) dengan foto-foto yang beredar beberapa bulan yang lalu, yakni foto-foto kajiannya Pemuda Hijrah dengan Ustadz Tengku Hanan Attaki. Ya gimana aku nggak takjub kalo lihat Masjid Agung Trans Studio Bandung itu jamaah di majelis ilmunya meluber hingga luar masjid, hingga perlu ada layar untuk bisa ikut kajiannya, yang shalat pun mesti di luar mesjid karena penuhnya. Begitu pula saat ada foto ketika Shalat Tarawih di Masjid Al-Lathiif (Bandung) yang juga meluber hingga keluar. Kalau isinya bapak-bapak atau ibu-ibu ya masih ngerti aku, lha ini isinya para pemuda semua, malam-malam lebih memilih shalat bersama, sujud bersama, dengerin kajian bareng ketimbang main sana-sini, Masya Allah...

***

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."

(HR. Muslim, no. 2699)

Akhir-akhir ini, aku sesungguhnya lagi terngiang-ngiang hadits ini, mengapa? Soalnya sering disampaikan Mas Salim A. Fillah di kajian-kajiannya atau tepatnya di video kajian yang saya lihat. Hal ini sering beliau bahas karena sekarang ini, mengakses kajian sangat mudah: buka Youtube, cari tema atau kajian Ustadz tertentu, sekali klik atau tap bisa langsung lihat. Tapi, menurutnya, ada berkah yang  berkurang, bukan dari videonya, tapi dari kolom komentarnya yang memperdebatkan yang tidak perlu, yang keluar kata-kata tidak perlu. Maka, kajian daring alias online atau digital ini bukan tidak boleh atau tidak bagus, hanya saja tetap tidak bisa menggantikan hadir di majelis ilmu secara langsung.

Karena, seperti hadis di atas, akan Allah mudahkan jalan menuju Surga bagi mereka yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, melangkahkan kaki dan dirinya ke sana. Ada perbedaan ketika hadir di majelis ilmu, suasanya berbeda, ada berkah di dalamnya, kita melihat langsung bagaimana Ustadz nya berbicara, tersenyum, tertawa, juga para jamaah yang lain. Majelis-majelis ilmu pun dihadiri oleh para malaikat yang menaungkan sayapnya, mencatat siapa-siapa saja yang hadir di sana, bahkan turut mencatat siapa yang tidak berniat untuk hadir tapi cuma numpang sebentar di sana, atau bahkan yang baru datang dan cuma kebagian kata-kata akhirnya pun dicatat sebagai kebaikan, dimohonkan ampunan atas dosa-dosanya. Maka duduknya kita di majelis ilmu, entah itu cuma sebentar, atau bahkan hanya awalnya numpang shalat atau numpang duduk, bisa jadi kebaikan juga, belum lagi kalau diamalkan apa yang didapat di majelis ilmunya. Rajinnya ikut dalam majelis ilmu pun semoga diiringin dengan rasa tawadhu', rendah hati, bukan sebaliknya, merasa lebih baik dari mereka yang tidak ikut, karena yang begini, kata-kata semacam ini adalah kata-kata Iblis saat menolak sujud menghormati Adam, "Ana khairu minha (aku lebih baik darinya)." Tetaplah kita berhati-hati, tetap tawadhu.
Hadits tentang keutamaan mencari ilmu ini seyogyanya bisa menjadi tambahan motivasi untuk hadir dalam majelis-majelis ilmu, untuk mereguk ilmu, menadah berkah, memohon ampun. Lalu selepasnya jadilah para hamba-Nya yang menebar cinta dan kebermanfaatan bagi sesama. 


Read More

Thursday, 2 November 2017

Mengobrol Ibukota

Meski sudah (atau baru?) lima bulan di Jakarta, tapi toh ya rasa-rasanya masih sedikit-sedikit takjub, nengok sana-sini, ngerasain ini-itu, atau lihat ke atas saat pulang kerja, loh di sini gedung-gedung tinggi banyak, seperti ingin saling kejar tingginya, belum lagi ada bangunan tinggi lainnya yang sedang dibangun. Loh ya, kalau di Bandung, setahuku gedung tertinggi itu ya BRI Tower di Jalan Asia Afrika, tepat di depan halte panjang Alun-alun Bandung, atau bangunan tinggi itu ya dua menara kembar Masjid Raya Bandung yang konon katanya semoga di Bandung nggak ada yang bikin bangunan lebih tinggi dari menara kembar itu. Takjub aku masih melihat ramainya bangunan-bangunan tinggi di sini.

Jakarta. By Gunawan Kartapranata - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=10417878


Pulang dari kantor, aku terbiasa pakai Transjakarta, atau mahsyur disebut Busway juga. Lha ini juga keren ya, bikin takjub gitu, bis-bis yang disediakan pemerintah sebagai sarana transportasi yang murah dan (kadang) cepat itu, terbagi atas belasan koridor yang masing-masing koridor pun terbagi-bagi lagi agar bisa menjangkau jalan-jalan di ibukota, dari mulai yang reguler ya Transjakarta dengan bis BRT (Bus Rapid Transit) hingga yang feeder bus alias non-BRT. Tarif murah dengan informasi yang jelas terkait rute dan posisi bis saat ini sungguh memudahkan. Kerjasama dengan pihak ketiga yakni aplikasi Trafi membuat para penumpang bisa melihat di mana sih bisnya sekarang, selain tentu di halte-halte BRT juga ada layar informasinya.

Wuidih belum lagi soalan KRL atau Commuter Line yang menghubungkan Jabodetabek, bertumpuk-tumpuknya orang memang jadi ketidaknyamanan, tapi setidaknya ada dululah sistemnya, toh ke depan barangkali bisa diperbaiki.

Lah terus aku lihat lagi Bandung yang lagi ribut-ribut masalah angkot dan transportasi umum lainnya. Pemkot itu loh ya, melalui Walikotanya, mengakui kalau masalah transportasi itu masih jadi PR yang belum beres. Bandung itu punya loh yang namanya Trans Metro Bandung (TMB), sudah ada sejak masa Dada Rosada menjabat, namun hingga kini masih begitu-begitu, ada beberapa koridor yang informasi mengenai jalur tiap-tiap koridornya pun nggak mudah untuk diketahui. Lha iya, aku googling sana-sini kepengin tahu jalurnya kok gak nemu, sekalinya nemu itu yang bikin penumpang yang nyoba bis tiap-tiap koridornya, lah informasi resminya mana? Ini juga yang bikin saya hampir nggak pernah pake bis kota kalau di Bandung.

Tapi loh jangan salah sangka, aku ini nggak sedang jelek-jelekkin kota kelahiran sendiri. Pemkot sudah mulai rintis solusi permasalahan ini, jangan tanya ke aku persentase keberhasilan dan segalanya, aku bukan lembaga survey, cuma warga biasa. Pemkot itu sudah bikin bis sekolah gratis buat anak-anak sekolah berseragam, warna dan gambar di bisnya pun lucu-lucu, ceria, sesuai lah sama anak sekolahan. Selain itu, meski mungkin bukan jadi transportasi utama, usaha Pemkot untuk bikin bike sharing bernama Boseh (Bike on The Street for Everybody Happy) juga patut diapresiasi menurutku, bisa jadi alat transportasi untuk jangka pendek, itung-itung olahraga dan nggak menghasilkan polusi. 

Eh ya, kalau kamu main-main ke Bandung Planning Gallery, kamu bisa lihat loh rancangan kota Bandung untuk puluhan tahun ke depan, dari mulai transportasi hingga pembangunan kota, rancangan untuk masing-masing Sub-Wilayah Kota (SWK) dan lain-lainnya. Bisa dibilang Grand Design nya itu bisa dilihat di sana. Nah melihat transportasi juga menarik nih, mblo, Pemkot punya rencana bikin LRT (Light Rail Transit), MRT (Mass Rapid Transit), pembenahan Trans Metro Bandung (TMB), hingga Cable Car. Nah, kalau di Jakarta yang bis kota (TransJakarta) sudah ada, nah yang LRT dan MRT ini sedang dibangun, nah jadi kalau kamu ke Jakarta terus lihat pembangunan sana-sini yang bikin macet nggak ketulungan itu, nah ini penyebabnya, LRT Jabodebek bakal manfaat sekali untuk transportasi massal, utamanya yang kerja di Jakarta tapi tinggal di Bogor, Depok, atau Bekasi, ya ngurang-ngurangin sesaknya KRL sama TransJakarta.

Balik lagi ke Bandung, katanya udah ada rencana LRT, MRT, Cable Car kan? Loh mana realisasinya?  Nah ini, anggaran alias uang alias fulusnya Kota Bandung itu ya nggak akan cukup untuk bikin itu dalam waktu yang cepat, Ridwan Kamil pernah bilang seandainya anggaran yang dimiliki Pemkot sebesar yang dimiliki Pemda Jakarta, wuih bisa lebih cepet pembangunan infrastruktur Kota Bandung, tapi berhubung cuma sedikit ya akhirnya kerjasama dengan pihak swasta. Taman-taman yang kamu lihat begitu banyak di Kota Bandung, ya sebagian itu kerjasama dengan swasta, misalnya Taman Cikapayang di daerah Dago, itu kerjasama dengan JNE, atau waktu pembenahan kawasan Asia-Afrika, itu pun ada kerjasama dengan swasta. 

Kalau menurut temanku yang bikin buku tentang "Paradiplomasi Kota Bandung Menuju Smart City", usaha lain Pemkot Bandung itu ya cari dana dan kerjasama hingga ke luar negeri. Makanya Ridwan Kamil sering laporan di sosial medianya terkait kerjasama yang sudah, sedang dan akan dilakukan dengan berbagai negara. Selain kerjasama soalan infrastruktur, ada juga kerjasama untuk pemberdayaan ekonomi, dari pelatihan dan pengiriman tenaga kerja ke Jepang atau didirikannya Little Bandung di beberapa negara, Little Bandung ini isinya dagangan UMKM di Kota Bandung yang dijajakan di luar negeri. Eh, tapi soal LRT sama Cable Car konon sudah mulai berjalan untuk usaha pembangunannya, ya tunggu saja lah ya.

***

Lima bulan di Jakarta tapi aku masih kadang takjub, masih suka kepikiran antara Bandung-Jakarta, perbedaannya, ininya, itunya, apalah-apalahnya juga. Meski aku takjub dengan berbagai bangunan di Jakarta, sarana transportasinya dan sebagainya, tapi kok aku kepikir ini: kemajuan pembangunan fisik belum tentu selaras dengan kebahagiaan ruhani. Byaarrr, aku kepikiran itu sekitar seminggu yang lalu. Lah dari mana aku bilang gitu? Aku kadang lihat dan merasakan sendiri, bawaannya di Jakarta itu terus fighting, kerja, kerja, kerja. Bisa jadi memang karena sedang rantau (meski ya jarak Bandung-Jakarta kalau dibilang rantau kurang jauh, tapi dibilang nggak rantau juga gimana, toh memang sudah beda kota). Tapi kuyakin tingkat stress orang di sini cukup tinggi. Kamu bayangin saja, terjebak dan ikut bikin kemacetan setiap hari, berjam-jam di jalan, belum lagi panasnya, uh bikin emosi. Lama-kelamaan begitu terus menurutku ya aku ngerti kalo jadi bikin stress dan nggak sabaran. Contoh nggak sabaran paling sederhana itu aku lihat di jalanan dan halte TransJakarta.

Di jalanan sini, kamu bakal akrab dengan klakson yang nyariiing sekali, karena mudah sekali orang-orang tekan tombol klakson di motor atau mobilnya. Kamu tahu kan fungsi zebra cross dan lampu lalu lintas? Nah di sini zebra cross itu nggak guna, lah iya, motor itu berhentinya di zebra cross, bahkan lebih sering lebih dari zebra cross, jadi ya zebra cross di sini itu untuk apa ya. Lampu lalu lintas juga begitu, pokoknya kalau lihat jalan kosong, meski masih merah lampunya, ya motor-motor itu main hajar saja terobos sana-sini, wuih jagoan. Nah aku jadi ingat kata Muhammad Shohibul Iman, bahwa penyebutan terhadap benda itu memengaruhi pikiran kita, namanya sudah betul "Lampu Lalu Lintas" yang artinya untuk mengatur lalu lintas, namun orang kadang lebih akrab menyebut "Lampu Merah", atau ada yang bilang juga "Stopan", ya jadi bawaanya lihat lampu lalu lintas itu ya menyebalkan, jengkelin, nggak asik, menghambat. Akan beda kalau di pikiran kita kalau kita bilang itu "Lampu Lalu Lintas", nah kita bakal pikir ya nggak apa-apa lagi merah, toh buat ngatur lalu lintas biar lebih nyaman dan aman.

Nah itu di jalanan, kalau di halte TransJakarta juga ngeri, kamu mau naik itu kadang bisa susah, desak-desakkannya ngeri juga, apalagi kalau kamu dapat bis yang kosong karena kebetulan halte itu halte pertama atau karena bisnya muter arah, terus halte lagi penuh-penuhnya, wuih itu berebutannya nguerrri, dulu-duluan biar bisa duduk, sampai rasanya aku pengen bilang, "mbok ya sabar dikit napa?" Wuih dahsyat.

***

Perihal kebahagiaan ini kalo di Bandung memang jadi salah satu fokus Pemkot. Ridwan Kamil dari masa kampanye dulu juga sudah bilang tentang Index of Happiness ini, tujuannya konon ingin menaikkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Nah menurut survey yang beliau dapatkan lalu dimuat juga di sosial medianya, konon indeks kebahagiaan warga Kota Bandung meningkat dan begitu tinggi, ya memang tentu masih ada kurang sana-sini, tapi secara garis besar ya jauh lebih bahagia dari masa sebelumnya.

Mobil Kekasih Juara di Taman Cikapayang, Bandung. Sumber: detik.com


Pembangunan fisik memang seyogyanya dibarengi dengan pembangunan ruhani, kesehatan jiwa, biar nggak stress. Bandung punya program "Minggu Lansia" biar para lansia di Bandung juga bahagia, tiap minggu ada relawan yang nemenin ngobrol atau mungkin hang out, lansia hang out? Ya siapa tau kan kejadian juga. Program lainnya yang terbaru itu adanya mobil Kekasih Juara singkatan dari "Kendaraan Konseling Silih Asih", ada jadwalnya tiap pekan di beberapa titik, di sana hadir beberapa psikolog dengan rompi merah mudanya siap untuk ngobrol dengan kamu yang ngerasa sedang punya masalah, mangga dirimu curhat di sana, moga-moga ada pencerahan selain tentunya kamu deketin yang punya dirimu, Gusti Allah subhanahu wa ta'ala.

Memasuki akhir-akhir tahun 2017 dan menuju 2018 memang bikin dag-dig-dug buat saya. Tahun depan masa-masa indah bersama Ridwan Kamil - Oded M. Danial akan berakhir, segala kemajuan dan yang dilakukan pasangan ini akan memberikan standar yang begitu tinggi bagi penerusnya. Warga Bandung harap-harap cemas, Ridwan Kamil sudah mantap untuk maju ke Pilgub Jabar sementara warga belum menemukan sosok semacam beliau lagi. Di sisi lain, Jakarta baru saja memiliki Gubernur-Wakil Gubernur baru, duet Anies-Sandi menjadi harapan baru penduduk terlepas dari begitu ramainya masa-masa Pilgub DKI Jakarta, tentu semua harus bersatu untuk kemajuan kota.

Pada akhirnya tentang pergantian pemimpin ini aku lagi-lagi kepikir, "Ya Allah, apakah keberkahan dan kebahagiaan akan berpindah dari Bandung ke Jakarta?"
Semoga saja tidak, semoga saja keberkahan dan kebahagiaan bukan berpindah, tapi meluas, di berbagai daerah, di berbagai kota, hingga seluruh negeri.
Read More

Tuesday, 31 October 2017

Lain Syakartum Laaziidannakum



Ternyata bukan hanya ketenangan yang harganya mahal, namun banyak sekali di dunia ini hal-hal yang mahal harganya bahkan tidak akan bisa dibeli. Kebahagiaan, berbagai nikmat yang diturunkan juga banyak yang tak mampu untuk dibeli. Contohnya?

Makanan terenak di seantero jagad raya dapat dibeli, namun nikmatnya makan tak mampu dibeli. Minuman tersegar dapat dibeli, namun nikmatnya hingga menghilangkan dahaga belum tentu dapat dibeli. Nikmatnya tidur pun begitu, kasur terempuk bisa dibeli namun nikmatnya tidur belum tentu, toh pada saat selepas lelah bekerja mempersiapkan suatu kegiatan, melihat karpet datar yang agak dingin pun seolah kasur empuk, bruk ambruk, tertidur pulas, nikmatnya tidur tak dapat dibeli. 

Maka hal-hal demikian ini ternyata soal rasa. Ketika merenungkan hal-hal yang begini, ada kesadaran bahwa banyaknya harta bukan ukuran untuk mendapatkan kenikmatan serta kebahagiaan, bahwa kebahagiaan dan kenikmatan didapati dari hati yang senantiasa bersyukur. Nikmat pun ditambah saat bersyukur, entah rasa nikmatnya atau bilangan jumlahnya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(Q.S. Ibrahim [14]: 7)
Read More

Sunday, 29 October 2017

Tenang



Konon, tenang itu mahal harganya, bahkan saking mahalnya, harta sebanyak apapun tak akan sanggup membeli 'harga' ketenangan. Bukankah ada orang yang kaya harta namun jauh dari ketenangan? Pun ada yang tak banyak harta namun diberi ketenangan. Meski tentu saja ada yang kaya harta serta diberi ketenangan dan sebaliknya, tak banyak harta dan tak diberi ketenangan.

Ketenangan itu mahal harganya, berbahagialah mereka yang diberi ketenangan meski di depannya akan terhampar berbagai macam ujian dan cobaan. Sebaliknya, akan sangat terasa menyiksa bagi mereka yang malah dihinggapi was-was padahal tak ada hal bahaya apapun yang akan mereka hadapi. Tenang, ini mahal sekali harganya.

Ketenangan pula yang diberikan Allah pada kaum muslimin pada Perang Badr. Sehari sebelum pecahnya perang, selepas strategi pengambilan tempat diambil, Badr diguyur hujan. Hujan yang menguatkan hati dan langkah kaum Muslimin, membersihkan diri mereka. Ketenangan diberikan pada kaum Muslimin saat dinyenyakkan tidur mereka pada malam sebelum pecahnya perang. Esoknya kemenangan berhasil diraih, dengan izin dan pertolongan-Nya, 313 muslimin berhasil kalahkan pasukan musyrikin Quraisy yang berkekuatan tiga kali lipat dari mereka.


"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,"
(Q.S. Al-Fath [48]: 4)
Read More

Thursday, 13 April 2017

Membeli Ruang dan Waktu untuk Menemani Sebuah Buku



Membeli ruang dan waktu untuk menemani sebuah buku*

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Nyai Ontosoroh pada Minke, dalam Anak Semua Bangsa)
ㅤㅤ
Maka kami selalu senang dan kagum pada mereka yang menulis -dengan tulisan yang baik-, suaranya abadi, tak padam di masanya, namun sampai ke masa generasi demi generasi setelahnya. Apa yang dituliskan mereka, memiliki kesan, pengaruh yang terasa hingga beberapa, puluh, ratus, atau ribu tahun setelahnya, entah hal baik atau hal yang tak baik.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian," ujar Pramoedya Ananta Toer. Maka sejalan dengan yang ia katakan, Pram tak hanya pandai dalam menulis karyanya, namun namanya tidak hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Begitu pula yang lain semisalnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), pun abadi dalam berbagai-bagai karyanya, dalam tulisan, atau perbuatan. Pada kerja mereka untuk keabadian, kita dapati berlembar-lembar pengetahuan, berjuta hikmah nan pengajaran. Pada kerja mereka untuk keabadian, kita dapati ilmu pengetahuan, sains, sejarah, asal-muasal peradaban manusia, linimasanya, garis waktunya, tersusun, untuk memberikan pengajaran bagi kita dan bekal untuk masa depan.

Namun rupanya, menulis tak hanya mengabadikan si pengarang, namun mengabadikan orang lainnya. Layaknya Pram yang "menghidupkan kembali" Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS), seorang perintis pers nasional, dalam wujud Minke di Tetralogi Buru-nya, menyusul pula dalam Sang Pemula. Meski tak semua yang ditulis dalam Tetralogi-nya adalah fakta -termasuk Annelies, wanita jelita yang merupakan istri Minke-, namun setidaknya ia berhasil mengingatkan akan seorang tokoh pendiri Medan Prijaji, surat kabar pertama milik pribumi. Tapi rupanya, ia, Tirto Adhi Soerjo, punya kontribusi lain, ia-lah yang atas permintaan Hadji Samanhoedi membikin Anggaran Dasar Sarikat Dagang Islam (SDI), yang cikal bakalnya dari Rekso Roemekso, yang kemudian berubah lagi menjadi Sarikat Islam (SI) dengan Anggaran Dasar yang dibikin Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. 

Ah nampaknya kami mesti berterima kasih pada mereka yang menulis, namanya abadi, mengabadikan yang lain, pun karyanya. Memberikan sebuah fantasi hebat dan berbagai-bagai pengetahuan serta ilmu, yang ada dalam bertumpuk buku.
ㅤㅤ
Kalimat-kalimat itu hidup selamanya... Abadilah cinderajiwa! (Salim A. Fillah)





*pada siang hari, di kafe kopi kecil Dipatiukur, Bandung.
ditulis mulanya di Instagram diberi sedikit tambahan sana-sini khusus di laman ini.
Read More

Sunday, 10 April 2016

What Will Happen In The Future?




On Wednesday TBI Class there was interesting topic that we discuss. It is about the future, precisely about the world in 2116. Actually, this topic based on text about Samsung survey in terms of what the world will be in 2116. There were some points that mention on the text, like idea about underwater cities (maybe its inspired by Atlantis, the lost underwater world), the 3D printer that can print pizza, so you can get pizza quickly, or the idea about health capsule, its make we won't go to the doctor frequently. 

Back To The Future III - We already passed that time
Well, when we talk about future we will think dozen of ideas that maybe exist in the future. As we know, many movies talk about future, such as Back To The Future (maybe you remember about "Back To The Future Day" in October 21, 2015, many interesting topics there, just googling it), Interstellar, and many more. Most of Science-Fiction movie maybe contain about our planet in the future.



For me, when we talk about future, there will be lot of things and topics that we can discuss. Future is not only about technology, but we can discuss in multidimensional topics. We can talk about the nature in the future, like what will happen if our planet become hotter, the North and South Pole become more melting, cut down and fires our forest, what will happen with our nature in the future? Or maybe the nature will become better, as the awareness about nature become better, people will more care about our environment, about our forests, our seas. Well, I hope people awareness about nature will be better.

We also can discuss future in terms of more heavier topics, such politics, the relation between countries etc. Well, the world may become worst when the wars happen more often. The conflict in Middle-East that happening now maybe become worst. One thing that I worried in the future if the World War III happen, maybe that will worst thing that can occur. 
Or what will happen in our country? Will our country can be developed country? What will happen in 2045, when the demographic bonus occur? Will our country become better or stagnant or worst?

In terms of education, will the methods of education will be better? Will the educational level in our country will be better? Or maybe we will more using digital method, like we will not often go to school but rather stay in our home and study by using our gadget. Maybe in the future we will have a robot that can teach us, we don't know.

Science and technology maybe the most interesting topics. If we look back to the past, the development of technology was really crazy. Well just in thirty years ago, maybe we not imagine that we will talk to our friends just by using palm-sized object, or in ten or fifteen years ago we still not use touchscreen phone and we amazed on that day when we see touchscreen gadget.
(Few days ago I read nice article in Wall Street Journal about our future smartphone, one of the idea is wireless charging. It's not like something we already found now, wireless charger, but it is like an area that when we enter that area our smartphone automatically charge itself, and stop charging when its battery full to prevent overcharging. Well it will be a solution for you who frequently running out the battery.)
Flying-Bus? image by google
Nowadays become crazier, now we use smartwatch, smartglass, well maybe we will use smartclothes someday, clothes that can  adapt the temperature and weather condition, or maybe self-dry clothes?  

I also think about transportation in the future. Maybe in the future our public transportation is like flying-bus or flying taxi, and our main road will be used by walk, bicycle, and non-motor vehicle. Well, it just a small though.



So, when we talk about future, I think dozen of ideas can be produced, I look the future will be better than now. But, one thing that I will hard to believe about future is the time-traveller and time machine, I just think if we can found and build it, will the past change? And what its effect to the present and future life? So I think this is one thing that I can't believe.

Well, that's all what I think about the future, maybe you have any ideas and opinion about the future? Let's discuss in comment section.
Thanks!
Read More

Monday, 22 February 2016

Taking An English Course

English (grammarly.com)

Hello!
Well, this post still (somehow) related to my previous post about study abroad. In the end of the post, I said that I want to go to University of Southampton or University of Twente, and of couse they have English Requirements. If I not mistaken, the English Requirements is 6.5 for IELTS. Well, I never take an English Test before, so I don't know about my score. I realize that I must take English Test (IELTS or TOEFL-iBT), so I must improve my English and practice for these test. Because of that, I decide to take an English Course to improve my English skill.

In the beginning, I still hesitate to take or not to take English Course, because I feel it was expensive. But, my Dad told me that if I want take English Course, just take it, don't overthink about the cost. So, I try to find an English Course that suitable for me. I search through the internet, their websites, from ex-student blog, internet forum, etc., and I get two choice, English First (EF) or The British Institute (TBI). Both of them have their own strenght and characteristics. Both of them had been built since more than 30 years, so they got good experiences. They also have their own methods, system, and also use native-speaker. But the difference between them is TBI use British English and EF use American English. So in this point, I must see my objectives: for what I take English Course? Just for improve my English, take an English Test preparation class, or to study abroad? If it was for study abroad, then where? What English Test that I should take later? So based on these questions, I choose TBI. Why?

First, I want to study in U.K., then of course British English will help me a lot more that American English (this is just my opinion, correct me if I'm wrong). Next, I want to take IELTS (maybe on last year or next year), so I think TBI is a good choice, because some of universities in U.K. just approve IELTS score. So then I take TBI.


TBI Bandung
Now about TBI Bandung, place, test, and of course cost. For places, TBI Bandung have three offices: TBI Riau, TBI Dago, and TBI Pasir Kaliki, you can choose on of them. They were several programs, from kids to adult, here are some of their programs:

  • Global English (GE), in this course you will learn English in all four skills (reading, writing, listening, speaking). It is have twelve levels from Elementary, Pre-Intermediate, Intermediate, Upper-Intermediate and Advanced.
  • Conversation, take this course if you want to improve your conversation skill.
  • Business, it is for they who want to improve English in business area.
  • International Exam preparation class, this is preparation class for IELTS, TOEFL, and TOEIC.
  • etc.,
TBI Riau, Bandung (tbi.co.id)

So, if you choose Global English, then you will take a placement test and interview, it is to determine in what class do you have to start . For placement test, it is forty multiple-choice questions about grammar. For interview, you will be interviewed by TBI teacher, well it is to test your speaking and listening skills. Just prepared for it, and be confident in interview. You can take placement test in weekdays before 14.30 o'clock, and it's free! After placement test, you can get the result, for me, I get intermediate level (that's good for me, same as my prediction :D).

Now about the cost. Well, they were three choices for Global English:

  • 25 non-native: 75 native, this will cost you about Rp 3.3 million.
  • 50 non-native: 50 native, its cost about Rp 4.2 million
  • 100% non-native, well it's cost just about Rp 2 million.
You can ask for monthly installments if you want. For registration, you must pay Rp 250.000, and for the books, you must pay about Rp 225.000. Choose wisely for the cost. :D

About the schedule, they offered you three schedule: 1) Monday and Wednesday; 2) Tuesday and Thursday; 3) Wednesday and Friday. All schedule have three options: 1) 16.00 - 17.30; 2) 17.45 - 19.15; 3) 19.30 - 21.00. They said, if you want a class with university student, you can choose the options 2) or 3), because most of them take one of those options. So it's depends to you.

Well, those informations I got from TBI Riau, maybe they are slightly differences in other branches, just ask them directly for more information.


Note:
Some of my friends or maybe some people said that to improve your English, you can get it by doing such as play video games (I suggest you Role-Playing Games type), watch English movies (without subtitle or use English subtitle), listen and sing English song, read articles, books, magazines in English. Well, these methods are all good, but I think you can't really improve your speaking skills (and maybe confidence), but maybe alternatively, you can do speaking practice with your friends. But for me, I need other methods, so I decide to take an English Course. So, it depends to you, to take or not to take English Course, just see your objectives and be diligent, don't waste your time and money if you can't be serious on it, unless you have unlimited time and money :p.
Read More